jump to navigation

Kala Amal Jadi Dosa Januari 11, 2007

Posted by ilham in Sosialita.
trackback

Tidak percaya? Silahkan datang ke Aceh. Sejak 2 tahun lalu, “negeri” di ujung Barat Indonesia ini senantiasa dilanda musibah. Paling mutakhir banjir bandang yang menyerang 3 kabupaten di pedalaman Aceh. Jauh sebelumnya, konflik tiada henti antara pemerintah—baca militer—dengan gerakan rakyat di Aceh. DOM, Darurat Militer, atau berbagai operasi penumpasan pemberontakan sporadis di bumi rencong ini, tak kalah menghancurkannya.

Bicara soal bencana kemanusiaan di Aceh, mungkin banyak yang tutup mata dan telinga. Tapi tidak setelah Tsunami. Seluruh dunia tersentak, dan bantuan berdatangan bagaikan air bah. Ya, sekuat dan semenggulung Tsunami yang memporak-porandakan bumi serambi Mekkah dan melahap tak kurang 200.000 penduduknya.

Saat itulah bantuan langsung sangat dibutuhkan. Bagi kita, saatnya beramal. Menurut agama-agama besar dunia, memberi pertolongan itu berpahala. Sedekah dalam bahasa Arabnya. Karitas dalam bahasa Inggrisnya. Namun apa yang terjadi kemudian. Saat air surut dan masyarakat mulai membangun diri dari sisa-sisa bencana, saat itulah virus baru menerjang.

Tsunami bantuan membuat masyarakat malas. Kerja padat karya membangun desa penting. Tapi dengan mengajari mereka bekerja upahan padahal mestinya menjadi gotong royong, hanya salah satu racun yang menghancurkan mentalitas warga. Itu pada level bawah (grassroots). Bagaimana dengan para elit kampung, pejabat, atau tokoh-tokoh yang kebetulan mempunya power dan jaringan? Setali dua uang. Racun itu adalah proyek. Segalanya dilihat dari kaca mata projek. Syukur-syukur jika bersih dari KKN. Tapi apa sih yang sekarang bisa bersih dari unsur-unsur itu kala hampir segala sesuatu terasa baru bagi semua orang. “Kalo bukan sekarang kapan lagi?” Aji mumpung style. Apa pula cara menghindarinya jika mereka tidak siap menolak hidangan yang tersaji rapi di depan. Ya, madu rasa racun, racun rasa madu!

Kini dua tahun setelah Tsunami, saya saksikan sendiri kehancuran sebuah masyarakat perlahan-lahan. Secara fisik, tentu sudah lebih baik. Apalagi dibanding 2 tahun lalu. Tapi tidak secara nilai. Kebudayaannya mengalami krisis pada berbagai tingkatan, pada sistem nilai masyakat hingga perilaku individunya.

Ternyata ini bukan yang pertama dalam sejarah manusia modern. Banyak masyarakat yang telah gagal menjalani fase pasca bencana. Seperti diutarakan seorang Hit Man kawakan di akhir hayatnya dalam karyanya “Bantuan yang Mematikan”. Buku ini adalah pertanggujawaban moralnya atas apa yang ia lakukan dan saksikan kala menjadi tenaga ahli sebuah lembaga dunia. Menurutnya, yang dilakukan banyak lembaga dunia, banyak negara maju, banyak donor pada akhirnya hanya menjadi candu masyarakat. Membunuh mereka secara perlahan-lahan dengan bantuan-bantuan. Alih-alih menjadikan mereka berdaya dan mandiri, bantuan semacam itu menjebloskan manusia-manusia dari negara-negara terbelakang ke dalam jurang ketergantungan. Dan anda pasti lebih tahu jika ketergantungan itulah yang menjadikan mereka komoditas yang tiada habisnya bagi negara yang lebih maju dan powerful.

Saat itulah amal hanya berakhir pada dirimu. Tak ada arti bagi manusia yang menerimanya. Malahan bisa jadi dosa, karena sejauh yang bisa dilacak, kitalah yang menabur benihnya…

 

 

 

Komentar»

1. wadehel - Februari 8, 2007

Pembunuhan di aceh bukan hanya dengan uang, tapi juga dengan budaya, lihat bagaimana mereka menginjak2 budaya leluhurnya sendiri dan mengimpor mentah2 berbagai aturan primitif.

Semoga pemimpin baru yang tadi pagi dilantik (dari orang GAM ya?) bisa lebih cerdas.