Bangsa Cina Pengeliling Dunia Pertama Desember 27, 2006
Posted by ilham in Buku.trackback
Judul Asli: 1421: The Year China Discovered The World, Genre: Nonfiction, Author: Gavin Menzies
Buku 1421: The Year China Discovered The World (yang untuk edisi Amerika terbit dengan judul 1421: The Year China Discovered America) pada dasarnya ingin membuktikan jika sejarah lama yg sangat eurosentris itu keliru. Penemu dunia-dunia baru bukanlah para petualang Eropa yang sering digembar-gemborkan, tapi bangsa Cina. Columbus, Ferdinand Magellan, Vasco DaGama, hanyalah menyusuri ulang apa yang telah dipetakan para pelaut Cina pada tahun-tahun kejayaan armada laut mereka. Itulah yang membuat sejarah dunia berubah meskipun tak pernah terungkap karena tertutupi oleh beban dan tendensi geo-politis yang berat.
Gavin Menzies memulai kritik sejarahnya dengan mengajukan hipotesis bahwa, jika sejumlah peta kuno buatan kartografer Eropa berhasil menggambarkan bagian-bagian tertentu dari bumi secara kurang lebih “akurat” sementara penjelajahan dan pemetaan terhadapnya belum dilakukan hingga beberapa puluh tahun setelah peta-peta kuno tersebut selesai di gambar, maka bukankah tidak mungkin mereka menyalin dari sumber lain yang dibuat kartografer sebelumnya? Dan para kartografer itu tak mungkin melakukannya tanpa serangkaian petualangan mahaluas, mahapanjang, dan mahasulit oleh para penjelajahan yang tak kalah tangguhnya.
Dari hipotesis inilah Menzies mengembangkan sejumlah logika dan pembuktian berdasarkan temuan-temuan arkelogis, peta-peta kuno, catatan-catatan sejarah, hingga bukti-bukti linguistik, biologis, dan flora-fauna yang tersisa hingga kini. Bukti-bukti ini sedemikian banyak dan panjangnya. Memenuhi hampir keseluruhan isi buku di setiap babnya. (Mau baca lebih banyak soal bukti-bukti ini, silahkan langsung baca ke sumbernya).
Pertama-tama ia menunjukkan bahwa dari semua armada laut yang tersedia pada kurun itu tak satupun yang memiliki kekuatan untuk melakukan perjalanan mengelilingi dunia. Imperium laut Venesia hingga Tamerlane tidak memungkinkannya akibat situasi mereka yang sedang merosot dan penuh perpecahan. Demikian pula mitos-mitos kejayaan Mesir dan kekuasaan kaum Muslim Timur Tengah, apalagi bangsa-bangsa kecil di berbagai benua yang bahkan belum memiliki kemampuan navigasi, pengetahuan kartografi. Mereka tidak memiliki pemerintahan yang sanggup menyokong ekspedisi besar yang pasti memakan biaya yang tak sedikit. Hanya imperium Cinalah yang benar-benar memiliki uang, kepemimpinan, momentum hingga teknologi yang memadai.
Pada saat yang sama, gairah “kuasa” Zhu Di, pendiri dinasti Ming kala itu, untuk menyatukan seluruh peradaban besar yang belum dikenal di berbagai belahan bumi ke dalam sistem ekonomi berbasis perdagangan dan kekuasaan simbolik berbasis “upeti” menjadi daya dorong yang sanghat dahsyat. Pada diri para laksamana bangsa Cina pun tak kalah besarnya tekad mereka untuk membuktikan kemahiran navigasi dalam melayari berbagai perairan buas di jagat raya ini. Semua itu lalu berkelindan dengan keinginan para ilmuan dan juga pemimpin dan raja mereka, untuk memetakan garis-garis wajah bumi—selagi menemukan, membuktikan, dan menerapkan pengetahuan astronomi yang tak pernah dicapai sebelumnya.
Bangsa Cina pun berhasil meskipun harus menyiapkan armada besar yang menguras pembendaharaan mereka yang luar biasa. Mengirimkan tak terhitung jumlah ahli dan orang-orang terbaik mereka selama tak kurang dari tiga tahun. Menempuh jutaan mil laut di tengah gelora arus, ancaman badai dan tsunami, prahara musim, hingga karang dan bongkahan es yang tak terperikan. Mereka tahu semua risiko itu, dan bahwa sebagian (besar) dari mereka tak akan pernah bisa lagi kembali ke tanah kelahiran.
Pada tahun 1421 armada besar dipimpin oleh Laksamana Ceng Ho pun siap. Armada yang terdiri dari empat kelompok besar ini masing-masing dipimpin seorang laksamana besar. Empat armada besar dilepas kurang lebih secara bersamaan sementara satu di antaranya dilepas lebih awal setelah disiapkan untuk lebih lama berada di laut. Kaisar Zhu Di melepas pelayaran Hong Bao menuju Antartika dan Australia, pelayaran Zhou Man menuju Australia, Pulau Rempah-Rempah di Nusantara, hingga mengitari Amerika Tengah, pelayaran Zhou Wen ke Amerika Utara hingga ekspedisi ke Kutub Utara, dan pelayaran Yang Qing yang memiliki tujuan khusus mengitari sejumlah samudera dan perairan untuk menyempurnakan panduan navigasi astronomis dengan menemukan kombinasi garis bujur dan lintang yang sebelumnya belum pernah dilakukan sebelumnya.
Pada tahun 1424, sempurna sudah pelayaran besar itu. Dengan jalurnya masing-masing mereka telah berkumpul kembali di daratan Cina. Dengan mengitari bumi, menjelajahi samudera-samudera raya, mengunjungi berbagai benua, dan menemukan patokan-patokan pengukuran navigasi, tak sulit bagi mereka untuk mengambar bumi dengan tingkat akurasi yang mengagumkan. Bukan cuma itu, peta bumi yang mereka buat akan menjadi rujukan rahasia para penjelajah Eropa dalam berlayar ke seluruh penjuru dunia di kemudian hari.
Bangsa Cina terbukti telah menciptakan peta dunia yang akurat dengan keberhasilan mengelilingi dunia. Mereka telah menguasai rute mengitari benua Afrika, 30 tahun sebelum Bartolomeu Dias menemukan jalur ke Tanjung Harapan langsung dari Eropa. Lalu mereka telah mengunjungi daratan Amerika lebih dari satu kali pelayaran 70 tahun sebelum Columbus tersasar di
sana. Mereka juga mendahului pelayaran keliling dunia pertama bangsa Eropa melalui pelayaran Ferdinand Magellan seabad sesudahnya. Bahkan tiga abad lebih maju dari Kapten Cook yang menjelajahi pulau rempah-rempah hingga Australia dan
New Zealand.
Memang membuktikan kedigjayaan bangsa Cina ini sungguh berat. Bukan saja para petualang dan penguasa Eropa menutup-nutupinya, tapi juga karena bangsa Cina sendiri sedang mengalami kemunduran peradaban. Istana mereka baru saja terbakar oleh sambaran petir yang tak diduga-duga, dan kelompok kepentingan mulai mengeksplotasi takhayul dengan menafsirkan peristiwa itu sebagai kutukan ilahi. Padahal di belakang itu Kelompok Birokrat (Mandarin) kerajaan sedang iri dengan prestasi Kaum Kasim (Armada Laut) mereka.
Dalam masa huru-hara politik itulah bangsa Cina kemudian menutup diri. Segera setelah para laksamana itu merapat, Cina jatuh menjadi bangsa yang paling tertutup. Hubungan luar negeri diputuskan dan anggaran angkatan laut disumbat. Berakhirlah masa keemasan armada laut Cina, dan surut pula pengetahuan kita tentang mereka. Yang tersisa kini hanyalah peta warisan mereka yang sempat dibaca dan dijadikan rujukan para petualang Eropa setelahnya. Sebuah bangsa yang telah menjadi pemimpin dalam menemukan dunia-dunia baru, kala Eropa masih terkungkung mitos bumi pipih dan laut penuh makhluk gaib. Dan, saatnya semua dikembalikan pada tempatnya!!!! 


salam kenal. sy lagi menyiapkan rancangan majalah spiritual dan kearifan lokal. judulnya d-jenar. di edisi pertama ini sy perlu melengkapi data dng peta kuno Indonesia.bisa memberi?
wah… kawan, saya cuma org biasa yg hoby ilmu jg motor. tp kalo mendalam sy ga ada… tnq udah berkunjung
anjink piye koq ga ada pete jalur pelayarannya sich apaan nih!!!!!!!!!
waw….
brapa lama mikir gituan…
panjang amat….
WOW HEUBAT BENER TUH……….!!!, IKUTAN DONK
tuh khan bangsa china ternyata lebih unggul dari bangsa eropa.gak lama lagi juga ekonominya juga bakalan nyaingin eropa.
Bukti sederhana-nya bangsa China bertebaran dimana-mana seluruh bagian dunia lebih banyak dibandingkan bangsa Eropa.
Dan bangsa China tidak pernah menjajah bangsa lain…
ei expedsi bangsa bangsa eroa apa
“Keadilan” dunia memang sering tidak masuk akal. Konon dulu orang cina menjelajahi dunia, tapi mereka berdagang & mereka bukan tipikal orang yang licik. Jadi semaju-majunya mereka, mereka tidak membuat bangsa yang berurusan sama mereka jadi tidak maju. Tidak seperti bangsa eropa jaman dulu (jaman dulu lho ya, sekarang mungkin gak terlalu), mereka aslinya orang barbar, yg ada di pikirannya, kalo saya menang ya kamu kalah, “gak mungkin ada lebih dari 1 pemenang”. Lihat aja gimana jawa bisa kalah sama belanda. Belanda itu menang hasil kibul2an. Ngomongnya mo ngajak berunding, tau2 dimatiin. Orang jawa itu kalah licik, bukan kalah kuat.
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa